Menerjemahkan bahasa jiwa dalam kata-kata
evelin-hurries.blogspot.com
Sabtu, 07 April 2012
Cerpen: Ketika Senyummu Menjelma Sepuing Kenang
Jingga melukis senja di ufuk barat. Induk betina mulai mengarahkan anak-anaknya ‘tuk kembali ke peraduan. Hiruk-pikuk aktivitas penduduk desa mulai merenggang. Para petani dengan wajah tentram mulai turun dari bukit 'tuk pulang selepas mengolah ladang padi masing-masing. Hal itulah yang sering terbayang dalam benakku saat petang menjelang. Ya! Hanya bisa kubayangkan, karna kini aku terpenjara dalam sebuah tempat yg gelap, senyap, sunyi dan pengap. Tepatnya aku berada di sebuah gudang. Tikus-tikus menjijikkan, nyamuk-nyamuk nakal, koran bekas, dan barang-barang lusuh sudah menjadi pemandanganku sehari-hari.
Karat dan debu yang melekat di tubuhku takkan menghilangkan semua kenangan lalu.Terakhir kali aku menghirup udara bebas adalah sekitar 10 tahun yang lalu. Dan saat itulah terakhir kalinya aku melihat senyummu, kawan. Senyum yang penuh ketulusan, senyum yang selalu setia menghiasi sudut bibirmu yang merah padam, membuat kerutan di pipimu menjadi kian indah. Kau masih ingat ketika kita bertemu untuk pertama kalinya? Pak Kosim—seorang Bos Bandar Jagung —memberi aku kepadamu sebagai wujud trimakasih karna Kau telah bekerja dg giat, ulet dan tekun dalam mengolah lahan jagung Pak Kosim. Aku dihadiahkan kepadamu, kawan. Katanya supaya engkau lebih mudah untuk perjalanan ke lahan jagung. Meskipun aku bukan barang baru, kau begitu senang dihadiahi aku. Dan sejak itu kita begitu akrab, kita menjadi sahabat karib.
Kau masih ingat semua kenangan kita? Dari mulai menikmati sejuknya udara pagi, menikmati sepoy-sepoy angin diantara rimbunnya pepohonan, menemanimu berpanas-panasan mengolah lahan jagung, menemanimu ke Mushalla, bahkan kau juga pernah mengajakku 'tuk menemanimu ke jamban. Haha… Semua itu kenangan kita, kawan. Emmhh… dan masih banyak yang lain yang tak bisa aku ingat satu-persatu. Yang masih sangat jelas kuingat adalah saat pagi itu, pagi yang terakhir:
Pagi yang begitu cerah, embun menyapa mesra. Mentari mulai bergegas menghiasi langit pagi… Begitu pula engkau, mulai bersiap 'tuk bekerja untuk ke lahan jagung. Sambil menyeruput segelas kopi pahit nan hangat itu, Ibu mendekat dan mulai menghampirimu…
“Pak, persediaan beras sudah hampir habis. Apalagi Si Juki belum bayar iuran sekolah…” ucap Ibu dengan lembut setelah keluar dari kamar sempit yang hanya berukuran 3x3. Warna kerudungnya yang mulai luntur tak memudarkan wajah sabarnya. Ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ibu sudah memakluminya, apalagi Ibu merasa tak ada gunanya bila harus bertengkar pun.
“Iya bu, nanti bapak usahakan.” Jawabmu seraya memakai topi lusuh yg diambil dari balik pintu. Setelah menikmati segelas kopi,tanpa bekal apapun kau langsung bersegera menuju lahan jagung. Biasanya kau membawa bekal –yang meskipun terkadang hanya serantang nasi dan garam. Namun karena persediaan beras habis, kau sengaja menganggap dirimu berpuasa saja sampai nanti sore. Sungguh pengabdian seorang bapak sekaligus suami yang sangat mengharukan batinku. Setelah sampai ke lahan jagung, kau bertemu Pak Kosim dan berbicara sesuatu, entah apa itu… Kau kembali mendekatiku dengan wajah sedih. Ada apa denganmu kawan? Hatiku bertanya-tanya.
Kau bercerita padaku, bahwa kau dipecat Pak Kosim karena lahan jagungnya terkena hama musiman, jadi terpaksa Pak Kosim tidak lagi memperkerjakan engkau karena lahan jagung itu akan dibangun rumah kontrakan saja. Lagipula Kau juga sudah dianggap tidak lagi becus mengolah lahan dikarenakan umurmu yang semakin renta. Umurmu sudah kepala enam, sehingga tenagamu makin berkurang dan akhirnya mau tidak mau kau harus meninggalkan mata pencaharian satu-satunya itu. Kau berkata pelan kepadaku :
“Bagaimana lagi kawan? Aku harus berkata apa pada anak dan istriku di rumah nanti?” Sambil berusaha mengelap keringat yang mulai mengucur perlahan dari kerutan keningmu.
Huh! Akupun begitu sedih saat melihat kau murung. Tapi terlihat di matamu yang kuyu, kau begitu sabar menghadapinya. Semua di laluimu dengan tabah. Sebenarnya aku sangat ingin membantu. Tapi apa daya, bercakap saja tak mampu, apalagi membantumu. Akhirnya kau memutuskan pulang ke rumah. Sebari kau menaiki aku, wajahmu setengah tengadah ke langit, dan sepertinya kau sedang berpikir…
“Hmm, bagaimana jika kita bekerja Sepeda Ojek saja??” katamu sambil menghembuskan separuh nafas yang tengah menjelma menjadi sekelumit beban di dada. Seolah membuatmu setengah lega karena pertanda menemukan jalan lain untuk bekerja. Dan senyum perlahan mulai mengembang dari sudut bibirmu. Dengan sisa tenaganmu kau menggoesku dan berbalik arah. Aku yakin, pasti kau akan coba melaksanakan rencana yang diutarakanmu padaku tadi. Engkau tersenyum lagi dan…
Ckiiiitttt…. GUBRAKKKK!!!!
Kami berdua jatuh tiba-tiba, tertabrak oleh sebuah truk gandeng besar pembawa kayu hutan. Ternyata dari arah jalan itu tadi ada sebuah truk besar yg melaju dengan kecepatan tinggi. Ugh! Aku tertabrak, roda depanku terpental entah ke mana. Aku terkulai di tepi jalanan. Tapi, ke mana kawanku itu? Oh tidak! Aku semakin panik, di mana kau? Ya Tuhan, ternyata kau tengah terjepit diantara ban-ban si truk gandeng itu. Darah segar mengalir deras dari kepalamu, tanganmu tertimpa oleh kayu-kayu hutan itu! Ya Tuhan, aku sungguh tak sanggup melihat kawanku itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera serta-merta bergerumun dan mencoba menyelamatkanmu dari tumpukan kayu-kayu hutan itu.
“Nyawanya tak dapat lagi ditolong. Baiknya kita bawa saja ke keluarga kakek ini!” Seseorang menegaskan dengan lirih.
"Hei, tidakkah kau lihat? Ia meninggal dengan keadaan tersenyum!" kata seseorang berbaju hitam sambil menunjukkan wajah keheranan. Sontak orang-orang lain pun terlihat sangat kaget, dan coba mengecek kebenarannya. Dan ternyata benar! Engkau tengah tersenyum...
Saking orang-orang ingin melihat kebenarannya, Si Supir gendut berkumis sialan itu malah cari kesempatan mencoba kabur, tapi untungnya sudah langsung di amankan oleh orang-orang sekitar. Bahkan sampai ada yang ingin mengeroyoknya. Untung saja ada salah satu pihak yg menengahkan, sehingga pengeroyokan pun tidak terjadi.
Setelah itu, sungguh aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Setelah aku tersadar, tiba-tiba aku berada di tempat ini, tempat yang mulanya sangat asing bagiku. Ya! Di tempat gelap dan sembab inilah aku harus bertahan. Di tempat sempit dan sepi inilah aku harus berdiang. Tak lagi dapat merasakan mesranya embun pagi, rinai hujan, angin malam, aku kehilangan semuanya! Dan yang paling sakit aku rasakan adalah kehilangan senyuman tulus dari bibirmu itu, kawan.
Meskipun aku tak dapat lagi melihat senyummu nan tulus itu, semerbak kenangan tentang kau dan senyummu itu akan masih tetap ranum dalam sanubariku, kawan…
Selamanya…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar