Jingga melukis senja di ufuk barat. Induk betina mulai mengarahkan anak
-anaknya
‘tuk kembali ke peraduan. Hiruk-pikuk aktivitas penduduk desa mulai
merenggang. Para petani dengan wajah tentram mulai turun dari bukit 'tuk
pulang selepas mengolah ladang padi masing-masing. Hal itulah yang
sering terbayang dalam benakku saat petang menjelang. Ya! Hanya bisa
kubayangkan, karna kini aku terpenjara dalam sebuah tempat yg gelap,
senyap, sunyi dan pengap. Tepatnya aku berada di sebuah gudang.
Tikus-tikus menjijikkan, nyamuk-nyamuk nakal, koran bekas, dan
barang-barang lusuh sudah menjadi pemandanganku sehari-hari.
Karat
dan debu yang melekat di tubuhku takkan menghilangkan semua kenangan
lalu.Terakhir kali aku menghirup udara bebas adalah sekitar 10 tahun
yang lalu. Dan saat itulah terakhir kalinya aku melihat senyummu, kawan.
Senyum yang penuh ketulusan, senyum yang selalu setia menghiasi sudut
bibirmu yang merah padam, membuat kerutan di pipimu menjadi kian indah.
Kau masih ingat ketika kita bertemu untuk pertama kalinya? Pak
Kosim—seorang Bos Bandar Jagung —memberi aku kepadamu sebagai wujud
trimakasih karna Kau telah bekerja dg giat, ulet dan tekun dalam
mengolah lahan jagung Pak Kosim. Aku dihadiahkan kepadamu, kawan.
Katanya supaya engkau lebih mudah untuk perjalanan ke lahan jagung.
Meskipun aku bukan barang baru, kau begitu senang dihadiahi aku. Dan
sejak itu kita begitu akrab, kita menjadi sahabat karib.
Kau masih
ingat semua kenangan kita? Dari mulai menikmati sejuknya udara pagi,
menikmati sepoy-sepoy angin diantara rimbunnya pepohonan, menemanimu
berpanas-panasan mengolah lahan jagung, menemanimu ke Mushalla, bahkan
kau juga pernah mengajakku 'tuk menemanimu ke jamban. Haha… Semua itu
kenangan kita, kawan. Emmhh… dan masih banyak yang lain yang tak bisa
aku ingat satu-persatu. Yang masih sangat jelas kuingat adalah saat pagi
itu, pagi yang terakhir:
Pagi yang begitu cerah, embun menyapa
mesra. Mentari mulai bergegas menghiasi langit pagi… Begitu pula engkau,
mulai bersiap 'tuk bekerja untuk ke lahan jagung. Sambil menyeruput
segelas kopi pahit nan hangat itu, Ibu mendekat dan mulai menghampirimu…
“Pak,
persediaan beras sudah hampir habis. Apalagi Si Juki belum bayar iuran
sekolah…” ucap Ibu dengan lembut setelah keluar dari kamar sempit yang
hanya berukuran 3x3. Warna kerudungnya yang mulai luntur tak memudarkan
wajah sabarnya. Ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ibu sudah
memakluminya, apalagi Ibu merasa tak ada gunanya bila harus bertengkar
pun.
“Iya bu, nanti bapak usahakan.” Jawabmu seraya memakai topi
lusuh yg diambil dari balik pintu. Setelah menikmati segelas kopi,tanpa
bekal apapun kau langsung bersegera menuju lahan jagung. Biasanya kau
membawa bekal –yang meskipun terkadang hanya serantang nasi dan garam.
Namun karena persediaan beras habis, kau sengaja menganggap dirimu
berpuasa saja sampai nanti sore. Sungguh pengabdian seorang bapak
sekaligus suami yang sangat mengharukan batinku. Setelah sampai ke lahan
jagung, kau bertemu Pak Kosim dan berbicara sesuatu, entah apa itu… Kau
kembali mendekatiku dengan wajah sedih. Ada apa denganmu kawan? Hatiku
bertanya-tanya.
Kau bercerita padaku, bahwa kau dipecat
Pak Kosim karena lahan jagungnya terkena hama musiman, jadi terpaksa Pak
Kosim tidak lagi memperkerjakan engkau karena lahan jagung itu akan
dibangun rumah kontrakan saja. Lagipula Kau juga sudah dianggap tidak
lagi becus mengolah lahan dikarenakan umurmu yang semakin renta. Umurmu
sudah kepala enam, sehingga tenagamu makin berkurang dan akhirnya mau
tidak mau kau harus meninggalkan mata pencaharian satu-satunya itu. Kau
berkata pelan kepadaku :
“Bagaimana lagi kawan? Aku harus berkata
apa pada anak dan istriku di rumah nanti?” Sambil berusaha mengelap
keringat yang mulai mengucur perlahan dari kerutan keningmu.
Huh!
Akupun begitu sedih saat melihat kau murung. Tapi terlihat di matamu
yang kuyu, kau begitu sabar menghadapinya. Semua di laluimu dengan
tabah. Sebenarnya aku sangat ingin membantu. Tapi apa daya, bercakap
saja tak mampu, apalagi membantumu. Akhirnya kau memutuskan pulang ke
rumah. Sebari kau menaiki aku, wajahmu setengah tengadah ke langit, dan
sepertinya kau sedang berpikir…
“Hmm, bagaimana jika kita bekerja
Sepeda Ojek saja??” katamu sambil menghembuskan separuh nafas yang
tengah menjelma menjadi sekelumit beban di dada. Seolah membuatmu
setengah lega karena pertanda menemukan jalan lain untuk bekerja. Dan
senyum perlahan mulai mengembang dari sudut bibirmu. Dengan sisa
tenaganmu kau menggoesku dan berbalik arah. Aku yakin, pasti kau akan
coba melaksanakan rencana yang diutarakanmu padaku tadi. Engkau
tersenyum lagi dan…
Ckiiiitttt…. GUBRAKKKK!!!!
Kami berdua jatuh
tiba-tiba, tertabrak oleh sebuah truk gandeng besar pembawa kayu hutan.
Ternyata dari arah jalan itu tadi ada sebuah truk besar yg melaju dengan
kecepatan tinggi. Ugh! Aku tertabrak, roda depanku terpental entah ke
mana. Aku terkulai di tepi jalanan. Tapi, ke mana kawanku itu? Oh tidak!
Aku semakin panik, di mana kau? Ya Tuhan, ternyata kau tengah terjepit
diantara ban-ban si truk gandeng itu. Darah segar mengalir deras dari
kepalamu, tanganmu tertimpa oleh kayu-kayu hutan itu! Ya Tuhan, aku
sungguh tak sanggup melihat kawanku itu. Orang-orang yang melihat
kejadian itu segera serta-merta bergerumun dan mencoba menyelamatkanmu
dari tumpukan kayu-kayu hutan itu.
“Nyawanya tak dapat lagi ditolong. Baiknya kita bawa saja ke keluarga kakek ini!” Seseorang menegaskan dengan lirih.
"Hei,
tidakkah kau lihat? Ia meninggal dengan keadaan tersenyum!" kata
seseorang berbaju hitam sambil menunjukkan wajah keheranan. Sontak
orang-orang lain pun terlihat sangat kaget, dan coba mengecek
kebenarannya. Dan ternyata benar! Engkau tengah tersenyum...
Saking
orang-orang ingin melihat kebenarannya, Si Supir gendut berkumis sialan
itu malah cari kesempatan mencoba kabur, tapi untungnya sudah langsung
di amankan oleh orang-orang sekitar. Bahkan sampai ada yang ingin
mengeroyoknya. Untung saja ada salah satu pihak yg menengahkan, sehingga
pengeroyokan pun tidak terjadi.
Setelah itu, sungguh aku tak tahu
lagi apa yang terjadi. Setelah aku tersadar, tiba-tiba aku berada di
tempat ini, tempat yang mulanya sangat asing bagiku. Ya! Di tempat gelap
dan sembab inilah aku harus bertahan. Di tempat sempit dan sepi inilah
aku harus berdiang. Tak lagi dapat merasakan mesranya embun pagi, rinai
hujan, angin malam, aku kehilangan semuanya! Dan yang paling sakit aku
rasakan adalah kehilangan senyuman tulus dari bibirmu itu, kawan.
Meskipun aku tak dapat lagi melihat senyummu nan tulus itu, semerbak
kenangan tentang kau dan senyummu itu akan masih tetap ranum dalam
sanubariku, kawan…
Selamanya…