Menerjemahkan bahasa jiwa dalam kata-kata

evelin-hurries.blogspot.com

Sabtu, 09 Juni 2012

Mengenang Remang


Mengenangmu…
Seperti menebak langit penghujan diselingi badai matahari
Membanjiri mata hati tiba-tiba menimbulkan kemarau panjang
Menggersangi benua-benua jiwa

Telah habis kata-kata lewat air mata, sehingga mata telah berupa air yang pancaroba

Aku di sini selayak petani yang menggadaikan nyawa pada tengkulak
Sebagai penuai ilalang-ilalang rindu di ladang hati tak bertuan

Mengenangmu…
Seperti memperjuangkan budak yang tak hendak menemu kemerdekaan
Terjajah omong-kosong tentang hidup
Dan akhirnya merasa lebih baik
Memikirkan tentang mati yang abadi

Bagiku…
Mengenangmu adalah kedunguan hakiki
Sebab kau hanyalah seonggok fatamorgana
Yang membentang remang  di cakrawala hati

--Gaduh kelasku, inspirasiku (01022012)

Surat Cinta Untuk Wanita Bermahkota Pelangi


SURAT UNTUK WANITA BERMAHKOTA PELANGI

oleh : Evelin R.

Wanita bermahkota pelangi. Ya, itulah engkau, wahai Ibu. Jika mahkotamu adalah pelangi, maka aku tebak bahwa isi kepalamu adalah rangkaian bunga jingga yg ranumnya tak pernah pudar dan begitu abadi menghiasi taman-taman jiwaku yang semula hanya dihiasi rerumput liar.
Ibu, maafkanlah anakmu yang sering mengundang gerimis ke dasar dedanau matamu yg mulai sayu dipeluki usia senja. Ibu, maafkanlah anakmu atas pengabaian yang kubalaskan terhadap petuah-petuahmu yg mengalir seiring derasnya usia. Ibu, maafkanlah anakmu yg sering menggugurkan daun-daun harapan yang kau benihkan dg susah payah di puing-puing nyawaku. Ibu, maafkanlah anakmu yg kerjanya hanya meminta maaf.
Lewat surat ini, aku sampaikan kata yg tak sempat terucap. Sembari menulis surat ini, aku berusaha memanggang pengabaianku yang kadang melampaui batas kesabaranmu. Di dalamnya aku sisipkan cinta sebesar gunung yg tingginya menjulang ke permukaan langit senja nan jingga. Teruntuk sesosok wanita bermahkota pelangi, Ibu.

-Di Heningnya Senandung Harap (19042012)

Sabtu, 07 April 2012

Cerpen: Ketika Senyummu Menjelma Sepuing Kenang



         Jingga melukis senja di ufuk barat. Induk betina mulai mengarahkan anak-anaknya ‘tuk kembali ke peraduan. Hiruk-pikuk aktivitas penduduk desa mulai merenggang. Para petani dengan wajah tentram mulai turun dari bukit 'tuk pulang selepas mengolah ladang padi masing-masing. Hal itulah yang sering terbayang dalam benakku saat petang menjelang. Ya! Hanya bisa kubayangkan, karna kini aku terpenjara dalam sebuah tempat yg gelap, senyap, sunyi dan pengap. Tepatnya aku berada di sebuah gudang. Tikus-tikus menjijikkan, nyamuk-nyamuk nakal, koran bekas, dan barang-barang lusuh sudah menjadi pemandanganku sehari-hari.
        Karat dan debu yang melekat di tubuhku takkan menghilangkan semua kenangan lalu.Terakhir kali aku menghirup udara bebas adalah sekitar 10 tahun yang lalu. Dan saat itulah terakhir kalinya aku melihat senyummu, kawan. Senyum yang penuh ketulusan, senyum yang selalu setia menghiasi sudut bibirmu yang merah padam, membuat kerutan di pipimu menjadi kian indah. Kau masih ingat ketika kita bertemu untuk pertama kalinya? Pak Kosim—seorang Bos Bandar Jagung —memberi aku kepadamu sebagai wujud trimakasih karna Kau telah bekerja dg giat, ulet dan tekun dalam mengolah lahan jagung Pak Kosim. Aku dihadiahkan kepadamu, kawan. Katanya supaya engkau lebih mudah untuk perjalanan ke lahan jagung. Meskipun aku bukan barang baru, kau begitu senang dihadiahi aku. Dan sejak itu kita begitu akrab, kita menjadi sahabat karib.
        Kau masih ingat semua kenangan kita? Dari mulai menikmati sejuknya udara pagi, menikmati sepoy-sepoy angin diantara rimbunnya pepohonan, menemanimu berpanas-panasan mengolah lahan jagung, menemanimu ke Mushalla, bahkan kau juga pernah mengajakku 'tuk menemanimu ke jamban. Haha… Semua itu kenangan kita, kawan. Emmhh… dan masih banyak yang lain yang tak bisa aku ingat satu-persatu. Yang masih sangat jelas kuingat adalah saat pagi itu, pagi yang terakhir:
        Pagi yang begitu cerah, embun menyapa mesra. Mentari mulai bergegas menghiasi langit pagi… Begitu pula engkau, mulai bersiap 'tuk bekerja untuk ke lahan jagung. Sambil menyeruput segelas kopi pahit nan hangat itu, Ibu mendekat dan mulai menghampirimu…
        “Pak, persediaan beras sudah hampir habis. Apalagi Si Juki belum bayar iuran sekolah…” ucap Ibu dengan lembut setelah keluar dari kamar sempit yang hanya berukuran 3x3. Warna kerudungnya yang mulai luntur tak memudarkan wajah sabarnya. Ibu sudah terbiasa dengan keadaan ini. Ibu sudah memakluminya, apalagi Ibu merasa tak ada gunanya bila harus bertengkar pun.
       “Iya bu, nanti bapak usahakan.” Jawabmu seraya memakai topi lusuh yg diambil dari balik pintu. Setelah menikmati segelas kopi,tanpa bekal apapun kau langsung bersegera menuju lahan jagung. Biasanya kau membawa bekal –yang meskipun terkadang hanya serantang nasi dan garam. Namun karena persediaan beras habis, kau sengaja menganggap dirimu berpuasa saja sampai nanti sore. Sungguh pengabdian seorang bapak sekaligus suami yang sangat mengharukan batinku. Setelah sampai ke lahan jagung, kau bertemu Pak Kosim dan berbicara sesuatu, entah apa itu… Kau kembali mendekatiku dengan wajah sedih. Ada apa denganmu kawan? Hatiku bertanya-tanya.
          Kau bercerita padaku, bahwa kau dipecat Pak Kosim karena lahan jagungnya terkena hama musiman, jadi terpaksa Pak Kosim tidak lagi memperkerjakan engkau karena lahan jagung itu akan dibangun rumah kontrakan saja. Lagipula Kau juga sudah dianggap tidak lagi becus mengolah lahan dikarenakan umurmu yang semakin renta. Umurmu sudah kepala enam, sehingga tenagamu makin berkurang dan akhirnya mau tidak mau kau harus meninggalkan mata pencaharian satu-satunya itu. Kau berkata pelan kepadaku :
       “Bagaimana lagi kawan? Aku harus berkata apa pada anak dan istriku di rumah nanti?” Sambil berusaha mengelap keringat yang mulai mengucur perlahan dari kerutan keningmu.
Huh! Akupun begitu sedih saat melihat kau murung. Tapi terlihat di matamu yang kuyu, kau begitu sabar menghadapinya. Semua di laluimu dengan tabah. Sebenarnya aku sangat ingin membantu. Tapi apa daya, bercakap saja tak mampu, apalagi membantumu. Akhirnya kau memutuskan pulang ke rumah. Sebari kau menaiki aku, wajahmu setengah tengadah ke langit, dan sepertinya kau sedang berpikir…
       “Hmm, bagaimana jika kita bekerja Sepeda Ojek saja??” katamu sambil menghembuskan separuh nafas yang tengah menjelma menjadi sekelumit beban di dada. Seolah membuatmu setengah lega karena pertanda menemukan jalan lain untuk bekerja. Dan senyum perlahan mulai mengembang dari sudut bibirmu. Dengan sisa tenaganmu kau menggoesku dan berbalik arah. Aku yakin, pasti kau akan coba melaksanakan rencana yang diutarakanmu padaku tadi. Engkau tersenyum lagi dan…
Ckiiiitttt…. GUBRAKKKK!!!!
Kami berdua jatuh tiba-tiba, tertabrak oleh sebuah truk gandeng besar pembawa kayu hutan. Ternyata dari arah jalan itu tadi ada sebuah truk besar yg melaju dengan kecepatan tinggi. Ugh! Aku tertabrak, roda depanku terpental entah ke mana. Aku terkulai di tepi jalanan. Tapi, ke mana kawanku itu? Oh tidak! Aku semakin panik, di mana kau? Ya Tuhan, ternyata kau tengah terjepit diantara ban-ban si truk gandeng itu.   Darah segar mengalir deras dari kepalamu, tanganmu tertimpa oleh kayu-kayu hutan itu! Ya Tuhan, aku sungguh tak sanggup melihat kawanku itu. Orang-orang yang melihat kejadian itu segera serta-merta bergerumun dan mencoba menyelamatkanmu dari tumpukan kayu-kayu hutan itu.
        “Nyawanya tak dapat lagi ditolong. Baiknya kita bawa saja ke keluarga kakek ini!” Seseorang menegaskan dengan lirih.

       "Hei, tidakkah kau lihat? Ia meninggal dengan keadaan tersenyum!" kata seseorang berbaju hitam sambil menunjukkan wajah keheranan. Sontak orang-orang lain pun terlihat sangat kaget, dan coba mengecek kebenarannya. Dan ternyata benar! Engkau tengah tersenyum...
Saking orang-orang ingin melihat kebenarannya, Si Supir gendut berkumis sialan itu malah cari  kesempatan mencoba kabur, tapi untungnya sudah langsung di amankan oleh orang-orang sekitar. Bahkan sampai ada yang ingin mengeroyoknya. Untung saja ada salah satu pihak yg menengahkan, sehingga pengeroyokan pun tidak terjadi.
        Setelah itu, sungguh aku tak tahu lagi apa yang terjadi. Setelah aku tersadar, tiba-tiba aku berada di tempat ini, tempat yang mulanya sangat asing bagiku. Ya! Di tempat gelap dan sembab inilah aku harus bertahan. Di tempat sempit dan sepi inilah aku harus berdiang. Tak lagi dapat merasakan mesranya embun pagi, rinai hujan, angin malam, aku kehilangan semuanya! Dan yang paling sakit aku rasakan adalah kehilangan senyuman tulus dari bibirmu itu, kawan.
          Meskipun aku tak dapat lagi melihat senyummu nan tulus itu, semerbak kenangan tentang kau dan senyummu  itu akan masih tetap ranum dalam sanubariku, kawan…
Selamanya…

Jumat, 06 April 2012

Aku Tahu tentang Ketidaktahuanku

Aku tahu, orang-orang berkata bahwa tak selamanya yang berkilau itu indah.
Tapi, aku mau tahu apakah yang indah itu berkilau

Aku coba lihat sendu matamu. Ya, matamu memang indah, namun berkilaukah?
Ah, ternyata aku salah, matamu tak hanya berkilau, namun juga membuatku risau





Dapatkah? Dapatkah aku meminta secuil saja kilau dari matamu itu, lalu kubawa untuk kujadikan penerang gulita di gua-gua jiwaku?

Bisakah? Bisakah aku membuang sekarung risauku tentang kilau serta indah matamu yang membuat gilaku semakin kentara?

Aku tahu, orang-orang berkata bahwa tak selamanya yang berkilau itu indah.
Tapi, aku mau tahu apakah yang indah itu berkilau

Sabtu, 31 Maret 2012

Getaran-Getaran itu, Engkaukah itu?

Getaran-getaran itu, masih kentara hingga kini
Getaran yang tak berwujud
Tapi begitu nyata memporak-porandakan gubuk-gubuk jiwa
Juga mengasingkan 1001 tanda tanya

Hening pun terbelah menjadi puing-puing
Terhampar bagai sisa-sisa
Teriak tak mampu, jiwaku bisu...
Berlari tak mampu, asaku beku...
Selalu hanya do'a yang dapat terlempar

Getaran-getaran itu, akan terus ada
Sampai abadi memisahkan lalu menyatukan kembali
Dari reinkarnasi rasa yang tak pernah jadi saksi
Atas asa yang selalu sangsi

Getaran-getaran itu
Begitu syahdu membuat jantung tak beraturan: Engkaukah itu?

Senin, 19 Maret 2012

Si Kantuk, Sang Pengetuk Hati ataukah Sang Pengutuk Mimpi

Malam ini, gigil begitu lestari melekat di pori-pori kulit. Nyamuk-nyamuk jalang pun juga sangat bernafsu mengulum merah darahku di balik kulit-kulit penuh bulu.
Kantuk pun mengetuk keopak mata, ia datang menawarkan mimpi-mimpi tanpa ada kompensasi jika tak terealisasi. Si kantuk pun terus berbasa-basi mempromosikan tentang segala mimpi, sehingga aku tak tahu bahwa ada kontra-indikasi menjadi orang gila mendadak karna obsesi tentang mimpi. 
Hingga akhirnya aku tenggelam di dedanau mimpi dan tak bisa berenang daripadanya; Hingga akhirnya aku terbuai dalam gumpalan mimpi dan tertelan di dalamnya.
Sampai tenaga, waktu dan biaya habis terkuras ganas. Tak peduli bahwa aku ini seorang yang miskin idealis dan hanya menggunakan air mata sebagai senjata otentik.
Wahai engkau Si Kantuk, semestinya engkau mengadakan konsensus terhadap hatiku yang sekeras baja itu. Lnakkanah dulu si hatiku, lalu bisikkan padanya,
"Mimpi tak akan terealisasi tanpa omong kosong basa-basi dan juga tanpa aksi yng presisi. Maka dari itu, tidurlah untuk bermimpi, dan bangunlah untuk mewujudkannya."


***
—berbasa-basi dengan gigil angin malam