Mengenangmu…
Seperti menebak langit penghujan diselingi badai matahari
Membanjiri mata hati tiba-tiba menimbulkan kemarau panjang
Menggersangi benua-benua jiwa
Telah habis kata-kata lewat air mata, sehingga mata telah berupa air yang pancaroba
Aku di sini selayak petani yang menggadaikan nyawa pada tengkulak
Sebagai penuai ilalang-ilalang rindu di ladang hati tak bertuan
Mengenangmu…
Seperti memperjuangkan budak yang tak hendak menemu kemerdekaan
Terjajah omong-kosong tentang hidup
Dan akhirnya merasa lebih baik
Memikirkan tentang mati yang abadi
Bagiku…
Mengenangmu adalah kedunguan hakiki
Sebab kau hanyalah seonggok fatamorgana
Yang membentang remang di cakrawala hati
--Gaduh kelasku, inspirasiku (01022012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar