Menerjemahkan bahasa jiwa dalam kata-kata

evelin-hurries.blogspot.com

Rabu, 16 November 2011

Di Senja Itu...

Dalam pertemuan yang asing, kita duduk menatap senja yang mulai pergi perlahan dari persemayamannya, aku memulai pembicaraan dan menanyakan pertanyaan yang sepertinya terlihat asing bagimu
"Mengertikah engkau apa definisi dari rindu?"
Kau diam sejenak kemudian menggeleng dan mengangkat pundak seolah benar-benar belum pernah merasakan apa itu rindu. Keningku mengerut pertanda heran, namun kulihat wajahmu begitu datar. Aku pun memilih diam dan mencoba menatap senja lagi, aku takut salah bicara. Kau pun masih terpaku di sampingku, berdehem dan tiba-tiba berkata "Rindu adalah imajinasi yang terlahir dari cinta yang datang dan pergi tak pernah permisi." Seketika mataku terbelalak dan tiba-tiba saja terngiang lagulagu di telingaku yang selalu mengingatkan aku pada dirimu yang terlalu kurindu dengan perasaan yang amat sangat.

Cause I was born...

To tell you I love you

And I am torn...

To do what I have to

To make you mine, and stay with me to night...
Yah, mataku mulai mengeluarkan aliran rindu yang lama tertahan di ujung mata. Tertahan. Lama sekali. Semenjak kau pergi. Dimana aku sebenarnya sudah lama sekali memendam rindu ini. Dan aku tak tahu apa itu rindu, maka sebabnya aku menanyakan apa itu rindu, kepada dirimu yang amat kucinta dengan segala pengharapan yang tak pernah kuketahui dimana jawabnya. Nyanyian itu berdengung lagi di telingaku

Kau datang dan pergi

Oh begitu saja...

Semua kuterima, apa adanya...

Mata terpejam dan hati menggumam

"Di ruang rindu, kita bertemu..."
Tahukah kau, kau adalah lelaki paling senja yang prnah kutemukan, kurindukan dan ku segala. Namun rindu seolah memang tak berarti bagimu. Rindu yang sebenarnya sangat berarti bagiku. Kau memang selalu begitu, datang dan pergi tiba-tiba. Maka dari itu kau memanglah lelaki senja, ketika indah dipandang tiba-tiba menghilang. Belum selesai aku menangisi rindu yang terlantar, tiba-tiba kau menyeka airmataku dengan lentik jemarimu, seraya menunjukkan wajah gelisahmu yang tak dapat lagi kau tampik. "Istriku, kaulah wanita yang amat berharga di dalam hidupku, namun waktu memang memaksa kita untuk saling merindu untuk beberapa waktu. Tak dengarkah kau cerita Nabi Adam dan juga Hawa yang terpisah beratus-ratus tahun dan akhirnya dipertemukan lagi, bukan?" Bisikmu lembut. Kau mulai tersenyum dan aku tak menyangka matamu akan berkaca-kaca. "Sayang, meski waktu tak pernah bisa toleransi pada kita, ketahuilah bahwa kita masih bisa bertemu pada senja yang sama. Senja dimana kita saling menukar cinta dan berbagi rindu."

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan. Menurutku, diam adalah jawaban yang paling tegas. Kita pun saling mengasingkan diri lagi dengan menatap senja yang mulai tenggelam. Senja yang mulai habis durasinya menandakan kita harus pulang sebelum petang membasahi lagi mata dan hati kita....
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar