Menerjemahkan bahasa jiwa dalam kata-kata

evelin-hurries.blogspot.com

Senin, 19 Maret 2012

Si Kantuk, Sang Pengetuk Hati ataukah Sang Pengutuk Mimpi

Malam ini, gigil begitu lestari melekat di pori-pori kulit. Nyamuk-nyamuk jalang pun juga sangat bernafsu mengulum merah darahku di balik kulit-kulit penuh bulu.
Kantuk pun mengetuk keopak mata, ia datang menawarkan mimpi-mimpi tanpa ada kompensasi jika tak terealisasi. Si kantuk pun terus berbasa-basi mempromosikan tentang segala mimpi, sehingga aku tak tahu bahwa ada kontra-indikasi menjadi orang gila mendadak karna obsesi tentang mimpi. 
Hingga akhirnya aku tenggelam di dedanau mimpi dan tak bisa berenang daripadanya; Hingga akhirnya aku terbuai dalam gumpalan mimpi dan tertelan di dalamnya.
Sampai tenaga, waktu dan biaya habis terkuras ganas. Tak peduli bahwa aku ini seorang yang miskin idealis dan hanya menggunakan air mata sebagai senjata otentik.
Wahai engkau Si Kantuk, semestinya engkau mengadakan konsensus terhadap hatiku yang sekeras baja itu. Lnakkanah dulu si hatiku, lalu bisikkan padanya,
"Mimpi tak akan terealisasi tanpa omong kosong basa-basi dan juga tanpa aksi yng presisi. Maka dari itu, tidurlah untuk bermimpi, dan bangunlah untuk mewujudkannya."


***
—berbasa-basi dengan gigil angin malam

20022012

2 komentar: